SIDOARJO, LenteraNews.id –t guyuran hujan deras yang sempat menimbulkan kekhawatiran panitia, acara buka puasa bersama yang menghadirkan Shinta Nuriyah Wahid tetap berlangsung khidmat dan penuh kehangatan di Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW), Jalan Kombes M. Duryat, Sidoarjo, Jumat (27/2), pukul 16.00 WIB hingga selesai.
Kegiatan buka puasa bersama bertema “Puasa Berbalut Bencana dan Goyahnya Demokrasi” ini menjadi ruang perjumpaan lintas iman dan lintas komunitas dalam semangat persatuan, kepedulian sosial, serta refleksi spiritual atas situasi kebangsaan.
Acara ini dihadiri oleh Dr.(HC) Hj. Shinta Nuriyah Abdurrahman Wahid, M.Hum, bersama berbagai elemen masyarakat. Antara lain komunitas Gojek, Gusdur Rian, Puan Amal Hayati, komunitas umat GKJW Sidoarjo, komunitas Roemah Bhineka, serta kaum duafa. Kehadiran beragam komunitas ini mempertegas nilai pluralisme yang diwariskan oleh Abdurrahman Wahid (Gus Dur).
Tema yang diangkat merefleksikan kondisi bangsa yang tengah menghadapi berbagai bencana alam serta tantangan terhadap stabilitas demokrasi. Melalui momentum Ramadan, peserta diajak memperdalam makna puasa sebagai laku spiritual sekaligus sosial untuk memperkuat solidaritas dan persatuan bangsa.
Dalam tausiyahnya, Shinta Nuriyah Wahid menekankan pentingnya menjaga persatuan dan kesatuan dalam masyarakat plural. Ia mengajak seluruh elemen bangsa untuk saling menghormati, menghargai, serta peduli satu sama lain agar tidak mudah terprovokasi oleh upaya adu domba yang berpotensi meretakkan kebhinekaan.
Beliau juga menjelaskan makna spiritual “Sahur” dan “Buka”.
Saur, menurutnya, bukan sekadar makan sebelum fajar, tetapi momentum kesadaran diri dan penguatan relasi dengan Tuhan sebagai fondasi memasuki proses spiritual yang lebih dalam. Buka, jelasnya, bukan sekadar membatalkan puasa, melainkan wujud syukur atas nikmat Tuhan serta kesadaran memaknai setiap karunia sebagai bagian dari perjalanan rohani.
Acara diawali dengan kebersamaan lintas iman yang ditandai dengan pengumandangan lagu Indonesia Raya, pembacaan ayat suci Al-Qur’an, lantunan shalawat Syubbanul Wathon, serta doa-doa untuk bangsa dan negara. Suasana semakin hangat saat seluruh peserta berbuka puasa bersama, saling bersalaman, dan berfoto bersama sebagai simbol persaudaraan.
Meski diguyur hujan deras sebelum acara dimulai, semangat kebersamaan tidak surut. Justru, hujan menjadi metafora harapan: bahwa dalam situasi penuh tantangan, persatuan dan toleransi tetap dapat bertumbuh.

Kegiatan ini menjadi pengingat akan relevansi ajaran Gus Dur tentang pluralisme dan toleransi dalam menjaga demokrasi agar tidak goyah. Pesan utama yang mengemuka adalah pentingnya merawat kebhinekaan dengan saling peduli, menghormati, dan menghargai demi keutuhan Indonesia sebagai satu bangsa. (Rc)
Penulis : Rudi Sutanto, S.E.
Editor : Pimpinan Umum
Sumber Berita: INDEPENDEN MULTIMEDIA INDONESIA















